Menggilai Sate Buntel Khas Solo

Dok. Pri | Satu porsi Sate Buntel Khas Solo Lengkap Dengan Nasi Dan Teh Manis Panas

Saya masih berada di Yogyakarta, kota yang memiliki banyak kenangan. Barang kali kenangan tersebut bukan milik saya pribadi, sangat milik anda, kamu, dia, mereka, atau siapa saja yang pernah berkunjung ke Yogya.
Baik secara sadar atau tidak sadar, kota ini bagi saya masih sama seperti yang dulu, karena kota Yogyakarta masih menyimpan dirinya.
Tapi kali ini saya masih ingin bercerita tentang sebuah kuliner Solo, tempat kuliner ini saya temukan saat perut keroncongan di Stasiun Solo Balapan. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.30 WIB, dan kereta yang saya tumpangi baru berangkat pukul 18.00, jadilah saya mampir ke Warung Sate Buntel Kambing Pak Haji Kasdi.
Apabila dari jalan keluar Stasiun Solo Balapan, ambil arah sebelah kiri menuju pasar, tepat depan pasar tersebut warung sate buntel tersebut hadir. Apabila melihat beberapa informasi yang disediakan, warung ini hadir di Jalan Monginsidi No.107, Kestalan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57129.
Dok. Pri | Tampilan Depan Warung Sate Kambing Pak H. Kasdi

Warung ini sebenarnya menyediakan pelbagai olahan daging, seperti sate, tengkleng, gulai, tongseng, dan lain sebagainya. Namun yang cukup banyak dipesan para pelanggan yang datang, yaitu sate buntel.
Suasana warung terlihat sederhana, dengan satu buah gerobak yang terlihat modern, ditambah dengan sebuah pembakaran yang tidak berhenti mengepulkan bara juga asap. Berjejeran juga sate yang sedang ditunggu oleh perut-perut lapar para konsumen, dua orang lelaki sibuk membakar, dan seorang ibu dengan cermat melayani pesanan mereka yang datang.
Saya pun akhirnya memesan satu porsi sate buntel, lengkap dengan nasi dan segelas teh manis panas. Proses pembakaran sate dalam penglihatan saya, sama seperti sate biasanya. Namun hal khusus bagi sate buntel ialah, dibakar menggunakan kertas aluminium, dan satu buah sate menggunakan tiga tusuk kayu yang cukup besar.
Dok. Pri | Sate Buntel Yang Masih Belum di Bakar

Satu porsi sate buntel hanya berisi dua buah sate, walau hanya dua buah tapi jangan kira besarnya. Karena saya saja hampir tidak habis, atau mungkin itu bawaan orok saya yang makan sedikit, jadi terasa begitu banyak.
Sajian sate buntel pun cukup khas, tidak seperti sate biasanya yang menggunakan saus kacang, sate buntel memiliki saus yang berbeda dan terlihat sederhana, yaitu kecap yang dicampur dengan irisan bawang merah, tomat, dan kembang kubis/kol (dalam bahasa Sunda).
Adapun pada tataran rasa, sejujurnya tak dapat menggambarkan itu dalam kata-kata. Karena rasa yang saya kecap tidak seperti sate kambing biasanya, namun untuk tekstur daging terasa lebih lembut di mulut.
Dok. Pri | Proses Pembakaran Sate Buntel 

Saus yang sederhana saya katakan sederhana, ternyata dapat menghilangkan wangi daging kambing yang cukup menyengat (ini asumsi pendek saya sih). Selain dari itu mungkin, memberikan sensasi rasa segar di mulut, ketika sedang dikunyah berkali-kali. (ya, ini juga masih sok tau-nya saya).
Segar campuran sayur-mayur begitu terasa bagi saya, hingga saya meminta tambahan, beruntung mas-mas memperbolehkan. Sebenarnya saat itu ingin tambah sayur-mayur tersebut ketiga kalinya, namun ada rasa malu sehingga saya urungkan.
Eh, tapi koq ya, setelah sate buntel habis, saya menyesal tidak tambah itu sayur-mayur, dan masih terbayang ingin kembali, tapi dengan tambahan saus kecap dan sayur-mayur yang cukup banyak.
Ya, mungkin begitulah, salah satu cerita saya menikmati kuliner khas kota Solo, yang tak terlalu jauh dari Stasiun Solo Balapan, rasanya saya cukup berterima kasih kepada semua, karena mau membaca cerita ini.
Salam Hangat

Fawwaz Ibrahim

Komentar

Postingan populer dari blog ini